Tips Agar Ikhlas dalam Beramal

Dipublikasikan : 31-05-2017 17:13:39

Tips Agar Ikhlas dalam Beramal

Oleh : Muhammad Muhajir

Ikhlas memang mudah diucapkan namun sulit dilaksakan. Ya memang perbuatan yang satu ini sulit untuk direalisasikan, yaitu perbuatan ikhlas yang didasarkan pada kesucian hati dan tidak tercampur dengan dorongan nafsu sayyai’ah/jelek. Tak jarang ketika melakukan amalan kebajikan rasa riya’ atau pamer muncul di hati kita. Lalu bagaimana supaya kita bisa ikhlas dalam segala perbuatan?

Abu ‘Uzair Boris memberi tips agar dapat membantu mengikhlaskan seluruh amalan perbuatan kita kepada Allah SWT.

Pertama, banyak berdoa. Di antara yang dapat menolong seorang hamba untuk ikhlas adalah dengan banyak berdoa kepada Allah SWT. Di antara doa yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah agar bisa senantiasa ikhlas adalah: “Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan aku pun memohon ampun terdapat perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (H.R. Ahmad)

Nabi sering memanjatkan doa tersebut agar terhindar dari kesyirikan. Padahal, kita tahu bahwa beliau adalah orang yang paling jauh dari kesyirikan.

Kedua, menyembunyikan amal kebaikan. Yakni menyembunyikan amal-amal kebaikan yang disyariatkan dan lebih utama untuk disembunyikan seperti shalat sunah, puasa sunah, bershadaqoh, dan lain-lain. Maksud perbuatan tersebut adalah amalan perbuatan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain bisa membawa keikhlasan, karena tidak ada yang mendorong melakukan itu kecuali Allah semata.

Rasulullah pernah bersabda dalam sebuah hadist yang intnya bahwa akan ada tujuh golongan yang Allah naungi pada hari dimana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya, salah satunya ialah seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kananya. (H.R. Bukhari Muslim)

Ketiga, memandang rendah amal kebaikan. Maksudnya, memandang rendah amal kebaikan yang kita lakukan akan dapat mendorong amal perbuatan kita lebih ikhlas. Karena ketika seorang hamba merasa ridla dengan amal perbuatan yang dilakukan dapat menyeretnya ke dalam perbauatan ujub (berbangga diri) yang menyebabkan rusaknya keihklasan. Karena semakin ujub seseorang terhadap amal kebaikan yang di lakukan, maka akan semakin kecil dan rusak keikhlasan dari amal tersebut, bahkan pahala amal kebaikan tersebut dapat hilang sia-sia.

Keempat,takut amalnya tidak diterima. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang  takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”(Q.S. Al-Mu’minun [23]: 60)

Pada ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah mereka yang mereka yang memberikan suatu pemberian, namun mereka takut akan tidak diterimanya amal perbuatan mereka tersebut. (Tafsir Ibnu Katsir)

Kelima, tidak terpengaruh perkataan manusia. Pujian dan perkataan orang lain terhadapat seseorang merupakan suatu hal yang pada umumnya disenangi manusia. Bahkan Rasulullah pernah menyatakan ketika ditanya tentang seorang yang beramal kebaikan kemudian ia dipuji oleh manusia kerenanya, beliau menjawab, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.”(H.R. Muslim)

Begitu pula sebaliknya, celaan orang lain merupakan suatu hal yang pada umumnya tidak disukai manusia. Namun, janganlah dijadikan pujian atau celaan orang lain sebagai sebab beramal saleh, karena hal tersebut bukanlah perbuatan ikhlas.

Keenam, menyadari bahwa manusia bukanlah pemilik surga dan neraka. Sesungguhnya apabila seorang menyadari bahwa orang-orang yang dijadikan tujuan amalnya (baik karena ingin pujian maupun kedudukan yang tinggi di antara mereka), akan sama-sama dihisab oleh Allah, sama-sama akan berdiri di padang Mahsyar dalam keadaan telanjang, sama-sama akan menunggu keputusan untuk dimasukan ke surga atau neraka, maka ia pasti tidak akan meniatkan amal perbuatan itu untuk mereka.

Karena tidak satu dari mereka yang dapat menolongnya untuk masuk surga ataupun menyelamatkan dari neraka. Bahkan, seandainya seluruh manusia mulai dari Nabi Adam sampai manusia terakhir berdiri di belakang kita, maka mereka tidak akan mampu untuk mendorong kita masuk ke dalam surga meskipun hanya satu langkah.

Agama adalah keikhlasan (kesetian atau loyalitas). Kami lalu bertanya, “Loyalitas kepada siapa, ya Rasulullah?” Rasulullah Saw. menjawab, “Kepada Allah, kepada kitab-Nya (al-Qur’an), kepada Rasul-Nya, kepada penguasa muslimin dan kepada rakyat awam.” (H.R. Muslim)

Oleh : Muhammad Muhajir

(Mahasantri LAZIS-MS)

Tags : Tips Agar Ikhlas dalam Beramal

Layanan Chat

: 085 600 888 108
: 5FE78C4A
: lazis Masjid Syuhada